Cari Jodoh Malang, Biro Jodoh Malang, kontak Jodoh Malang atau bisa juga PAKET WISATA KE PULAU TIDUNG MURAH 2017 LENGKAP jika anda ingin bisnis harus mampu pilih Jasa SEO bergaransi, semoga bermanfaat.
Home » »

PENGERTIAN BUNUH DIRI | ANALISA | PENYEBAB


PENGERTIAN BUNUH DIRI | ANALISA | PENYEBAB


Pengertian bunuh diri bunuhdiri
bunuhdiri
Dewasa ini banyak kejadian kejadian yang berujung pada bunuh diri , dalam postingan ini kita akan mencoba memahami tentang pengertian bunuh diri, Menurut Maramis (1994), Pengertian bunuh diri adalah segala perbuatan seseorang yang dapat mengakhiri hidupnya sendiri dalam waktu singkat.
Pikiran atau upaya bunuh diri merupakan salah satu karakterisitik depresi mayor yang terdapat dalam DSM. Oleh karena itu, definisi depresi biasanya mencakup pikiran atau tindakan bunuh diri. Dengan gejala yang sama, bila para penderita skizofrenia atau masalah penyalahgunaan zat melakukan tindakan bunuh diri, seringkali mereka juga didiagnosis menderita depresi (Roy, 1982; Roy & Linnoila, 1986). Dengan demikian tidak mengherankan bila pemikiran untuk bunuh diri banyak dimiliki orang-orang yang sakit mental, mengingat perilaku yang menghancurkan diri sendiri tersebut diindikasikan sebagai salah satu ciri beberapa gangguan mental.
Bunuh diri merupakan tindakan kompleks dan multisegi (Berman & Jobes, 1996; Brown dkk., 2000; Hoyert dkk., 2001; Moscicki, 1995). Tidak ada satupun teori yang dapat menjelaskannya.
PERBANDINGAN ANTARA ORANG-ORANG YANG BERUPAYA DAN BERHASIL BUNUH DIRI
Karakterisitik
Orang-orang yang Berupaya Bunuh Diri
Orang-orang yang Berhasil Bunuh Diri
Gender
Mayoritas perempuan
Mayoritas Laki-laki
Usia
Terutama berusia muda
Risiko meningkat berkaitan dengan usia
Metode
Tingkat kefatalan rendah (pil, memotong urat nadi)
Lebih keras (dengan senjata api, melompat)
Diagnosis umum
Gangguan distimik
Gangguan kepribadian ambang skizofrenia
Gangguan mood mayor
Alkoholisme
Emosi dominan
Depresi disertai kemarahan
Depresi disertai keputusasaan
Motivasi
Perubahan kondisi
Mengharapkan pertolongan (cry for help)
Depresi disertai keputusasaan
Kematian
Riwayat rumah sakit
Kesembuhan singkat dari disforia
Sikap terhadap upaya bunuh diri
Lega karena dapat selamat
Berjanji untuk tidak mengulangi
Sumber: Diadaptasi dari Fremouw dkk, 1990
Beberapa mitos tentang Bunuh Diri, terdapat banyak miskonsepsi tentang bunuh diri yang diyakini secara umum (Fremouw dkk., 1990; Pokorny, 1968; Shneidman, 1973);
1. Orang-orang yang berkata ingin bunuh diri tidak akan melakukan tindakan tersebut
2. Bunuh diri dilakukan tanpa memberi peringatan
3. Hanya orang-orang dari kelas tertentu yang melakukan bunuh diri
4. Menjadi anggota kelompok keagamaan tertentu adalah prediktor yang baik bahwa seseorang tidak akan berpikir untuk bunuh diri
5. Motif bunuh diri dapat dengan mudah diketahui
6. Semua orang yang melakukan tindakan bunuh diri berada dalam keadaan depresi
7. Seseorang yang menderita penyakit fisik yang mematikan tidak mungkin melakukan bunuh diri
9. Bunuh diri dipengaruhi faktor-faktor kosmik
10.Membaiknya kondisi emosional berarti mengurangu risiko bunuh diri
11.Bunuh diri merupakan kesepian
12.Orang-orang yang berniat bunuh diri memang ingin mati
13.Berpikir untuk bunuh diri merupakan hal yang jarang terjadi
14.Menanyakan kepada seseorang, terutama orang yang depresi, tentang bunuh diri akan memojokkannya dan menyebabkan tindakan bunuh diri yang sebenarnya tidak akan terjadi jika tidak ditanyakan
15.Orang-orang yang mencoba bunuh diri dengan cara yang kefatalannya rendah tidak sungguh-sungguh ingin membunuh dirinya sendiri
* Ketika membayangkan bunuh diri biasanya berpikir tentang seseorang yang penuh dengan perhitungan melakukan tindakan dramatis yang dipilih secara eksplisit untuk mengakhiri hidupnya dengan segera, misalnya; perempuan yang duduk di dalam garasi dengan mesin mobil menyala, laki-laki dengan ujung pistol menempel di pelipisnya, atau seorang anak dengan sebotol obat tidur orang tuanya. Namun, para ahli bunuh diri juga menganggap seseorang memiliki niat bunuh diri jika mereka bertindak dengan cara yang tidak tampak jelas ingin menghancurkan diri sendiri, namun dapat menyebabkan cedera serius atau kematian setelah kurun waktu lama, seperti pasien diabetes yang menolak untuk diberi insulin atau tidak patuh terhadap aturan diet atau seseorang yang menderita alkoholisme yang tetap minum alkohol dan tidak mencari pertolongan terlepas dari kesadaran terhadap kerusakan yang diakibatkan pada tubuhnya. Kadangkala disebut kematian subintensional, tindakan yang jelas bunuh diri tersebut makin merumitkan tugas untuk memahami dan mengumpulkan data statistik mengenai bunuh diri (Shneidman, 1973).
Berbagai pemikiran tentang ciri-ciri dan penyebab bunuh diri dapat ditemukan di banyak tempat (Shneidman, 1987). Surat-surat dan catatan harian dapat memberikan insight tentang fenomenologi orang-orang yang bunuh diri. Banyak motif bunuh diri yang dikemukakan (Mintz, 1968): agresi yang dibalikkan ke diri sendiri; pembalasan yang dilakukan dengan cara menimbulkan perasaan bersalah pada orang lain; upaya untuk memaksakan cinta dari orang lain; upaya untuk melakukan perubahan atas kesalahan yang dilihat pada masa lalu; keinginan untuk bertemu dengan orang yang dicintai yang telah meninggal; dan keinginan atau kebutuhan untuk melarikan diri dari stress, kehancuran, rasa sakit, atau kekosongan emosional.
Suatu teori tentang bunuh diri yang didasari penelitian dalam bidang psikologi sosial dan kepribadian menyatakan bahwa beberapa tindakan bunuh diri dilakukan karena keinginan kuat untuk lari dari kesadaran diri yang menyakitkan atas kegagalan dan kurangnya keberhasilan (Baumeister, 1990). Berbagai laporan media massa tentang bunuh diri dapat menyebabkan meningkatnya angka bunuh diri. Kemungkinan yang tidak menyenangkan ini dibahas oleh Bandura (1986), dan yang mengkaji penelitian oleh Philips (1974, 1977, 1983) menunjukkan beberapa hubungan berikut:
1. Bunuh diri meningkat hingga 12 persen pada bulan berikutnya menyusul kematian Marilyn Monroe.
2. Publikasi berbagai kematian karena tindakan bunuh diri yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak terkenal juga diikuti peningkatan angka bunuh diri secara signifikan, menunjukkan bahwa hal yang menjadi penting adalah publikasi itu sendiri dan bukan keterkenalan orang yang melakukannya.
3. Publikasi peristiwa pembunuhan-bunuh diri diikuti oleh meningkatnya kecelakaan mobil dan pesawat di mana pengemudi dan penumpang tewas.
4. Berbagai laporan media massa tentang kematian wajar orang-orang yang terkenal tidak diikuti peningkatan angka bunuh diri, menunjukkan bahwa bukan rasa dukacita semata yang merupakan faktor berpengaruh.

Artikel yang berhubungan: