Teori Teori psikologi terhadap Bunuh Diri
Freud menganggap bunuh diri
sebagai pembunuhan. Ketika seseorang kehilangan orang yang dicintai sekaligus
dibencinya, dan meleburkan orang tersebut dengan dirinya, agresi dirahkan ke
dalam. Jika perasaan ini cukup kuat, orang yang bersangkutan akan bunuh diri.
2. Sosiologis
Durkheim
Emile Durkheim (1897, 1951), menganalisis
berbagai laporan bunuh diri dari berbagai negara dan periode sejarah dan
menyimpulkan bahwa penihilan diri sendiri dapat dipahami secara sosiologis. Ia
membedakan 3 jenis bunuh diri.
a. Bunuh diri egostik dilakukan oleh orang-orang yang memiliki
sedikit keterikatan dengan keluarga, masyarakat, atau komunitas. Orang-orang
ini merasa terasingkan dari orang lain, tidak memiliki dukungan sosial yang
penting agar mereka tetap berfungsi secara adaptif sebagai makhluk sosial.
b. Bunuh diri altruistik dianggap
sebagai respon terhadap berbagai tuntutan sosial. Beberapa orang yang bunuh
diri merasa sangat menjadi bagian suatu kelompok dan mengorbankan diri untuk melakukan hal yang dianggapnya
menjadi kebaikan bagi masyrakat.
c. Bunuh diri anomik dipicu oleh
perubahan mendadak dalam hubungan seseorang dengan
masyarakat.
3. Shneidman dan Farberow, membagi orang yang
melakukan bunuh diri menjadi 4 golongan, yaitu:
a. Mereka yang percaya bahwa tindakan bunuh
diri itu benar, sebab mereka memandang bunuh diri sebagai peralihan menuju
kehidupan yang lebih baik atau mempunyai arti untuk menyelamatkan nama baiknya
(misalnya: hara-kiri)
b. Mereka yang sudah tua, hal ini ditemukan
pada orang yang kehilangan anak atau cacat jasmaninya, yang menganggap bunuh
diri sebagai suatu jalan keluar dari keadaan yang tidak menguntungkan bagi
mereka.
c. Mereka yang psikotik dan bunuh diri di
sini merupakan jawaban terhadap halusinasi atau wahamnya.
d. Mereka yang bunuh diri sebagai balas
dendam, yang percaya bahwa karena bunuh diri orang lain akan berduka cita dan
mereka sendiri akan dapat menyaksikan kesusahan orang lain itu.
4. Herbert Hendin mengemukakan beberapa hal
psikodinamika bunuh diri sebagai berikut:
a.
Kematian sebagai pelepasan pembalasan (death as
retaliatory abandonment)
Bunuh diri dapat merupakan usaha untuk mengurangi preokupasi tentang rasa
takut akan kematian. Individu mendapat
perasaan seakan-akan ia dapat mengontrol dan mengetahui bilamana dan bagaimana
kematian itu.
b. Kematian sebagai pembunuhan terkedik (ke
belakang) (death as retroflexed murder)
Bagi individu yang mengalami
gangguan emosi hebat, bunuh diri dapat mengganti kemarahan atau kekerasan yang
tidak dapat direpresi. Orang ini cenderung untuk bertindak kasar dan bunuh diri
dapat merupakan penyelesaian mengenai pertentangan emosi dengan keinginan untuk
membunuh.
c. Kematian sebagai penyatuan kembali (death
as reunion)
Kematian dapat mempunyai arti
yang menyenangkan, karena individu itu akan bersatu kembali dengan orang yang
telah meninggal. Lebih sering ditekankan pada rasa puas untuk mengikuti yang
telah meninggal itu.
d.
Kematian sebagai hukuman buat diri sendiri (death as
self punishment)
Menghukum diri sendiri karena kegagalan dalam
pekerjaan jarang terjadi pada wanita, akan tetapi jika seorang ibu tidak mampu
mencintai, maka keinginan menghukum dirinya sendiri dapat terjadi. Dalam rumah
sakit jiwa, perasaan tidak berguna dan menghukum diri sendiri merupakan hal
yang umum. Mula-mula mungkin karena kegagalan, rasa berdosa karena agresi,
individu itu mencoba berbuat baik lagi, tetapi akhirnya ia menghukum diri
sendiri untuk menjauhkan diri dari tujuan itu.
Artikel yang berhubungan:
KESEHATAN PSIKOLOGI
- CONTOH KASUS BULIMIA YANG DISEBABKAN STRESS
- Bulimia adalah gejala lapar yang tidak pernah terpuaskan
- Terapi Untuk Penderita Demensia
- Gejala Gejala Stres
- Jenis Demensia berdasarkan penyebabnya
- GEJALA-GEJALA GANGGUAN SKIZOFRENIA
- Etiologi Skizofrenia ( Genetika, Predisposisi, Presipitasi )
- Tipe-tipe penyakit Skizofrenia
- PENYEBAB DELIRIUM
- DELIRIUM GEJALA DAN JENISNYA