Cari Jodoh Malang, Biro Jodoh Malang, kontak Jodoh Malang atau bisa juga PAKET WISATA KE PULAU TIDUNG MURAH 2017 LENGKAP jika anda ingin bisnis harus mampu pilih Jasa SEO bergaransi, semoga bermanfaat.
Home » »

PERSONALITY DISORDER (Gangguan Kepribadian)


PERSONALITY DISORDER (Gangguan Kepribadian)

PERSONALITY DISORDER (Gangguan Kepribadian)
Definisi
Dulu istilah gangguan kepribadian (personality disorder) sering disebut sebagai psychopathy, artinya adalah adanya kekuranga atau gangguan dalam jiwa yang tampil dalam perilakunya sehari-hari. Kadang-kadang juga disebut dengan sociopathy, karena yang diperhitungkan adalah perilaku yang menimbulkan atau memberi dampak negatif terhadap masyarakat. Istilah psychopathy digunakan oleh masyarakat di Eropa sedangkan istilah sociopathy digunakan oleh masyarakat di Amerika.
Personality disorder adalah gangguan-gangguan dalam perilaku yang memberikan dampak atau dinilai negatif oleh masyarakat. Pemahaman ini bersumber pada masalah perkembangan, yaitu bahwa manusia berkembang dari lahir dalam suatu proses dimana terjadi interaksi antara dirinya dengan lingkungannya. Proses inilah yang menyebabkan kondisi di dalam diri seseorang (inner world) menimbulkan adanya perkembangan kepribadian, termasuk didalamnya tugas-tugas perkembangan dan moralitas dalam berperilaku. Dalam personality disorder, kejadian yang tampil adalah bahwa pada suatu taraf usia tertentu individu berperilaku menurut pola perilaku anak-anak yang lebih muda atau jauh lebih muda dari usianya. Dengan kata lain pada orang tersebut, ia masih berorientasi pada diri sendiri atau kepentingannya sendiri.
Menurut DSM-III personality disorder adalah sifat-sifat kepribadian yang merupakan pola-pola yang berkelanjutan dalam hal perceiving (mempersepsi atau menanggapi), berelasi, atau berpikir mengenai lingkungan dan dirinya sendiri sehingga ditampilkan dalam rentang yang luas mengenai konteks-konteks pribadi dan sosial yang penting. Jika ciri-ciri kepribadian tidak fleksibel dan maladaptif, serta menyebabkan secara fungsional memperlihatkan kelemahan yang signifikan atau mengalami distress subyektif, maka terjadilah personality disorder. Bentuk-bentuk gangguan kepribadian biasanya ditemukan pada remaja atau sebelumnya dan terus berkembang sampai usia dewasa.
Personality disorder (gangguan kepribadian) merupakan pola yang menetap (long-standing pattern) yang menyagkut perilaku, pikiran, dan perasaan yang sangat maladaptif (highly maladaptive) bagi individu maupun orang-orang disekitarnya. Sedangkan menurut PPDGJ-III gangguan kepribadian khas adalah suatu gangguan berat dalam konstitusi karakteriologis dan kecenderungan perilaku dari seseorang, biasanya meliputi beberapa bidang dari kepribadian, dan hampir selalu berhubungan dengan kesulitan pribadi dan sosial.
Seseorang dikatakan mengalami gangguan kepribadian apabila memenuhi kriteria berikut ini :
  1. Disharmoni sikap dan perilaku yang cukup berat, biasanya meliputi beberapa bidang fungsi, misalnya afek, kesiagaanm pengendalian impuls, cara memandang dan berpikir, serta gaya berhubungan dengan orang lain
  2. Pola perilaku abnormal berlangsung lama, berjangka panjang, dan tidak terbatas pada episode gangguan jiwa
  3. Pola perilaku abnormalnya bersifat pervasif (mendalam) dan maladaptif yang jelas terhadap berbagai keadaan pribadi dan sosial yang luas
  4. Manifestasi diatas selalu muncul pada masa kanak atau remaja dan berlanjut sampai usia dewasa
  5. Gangguan ini menyebabkan penderitaan pribadi (personal distress) yang cukup berarti, tetapi baru menjadi nyata setelah perjalanan yang lanjut
  6. Gangguan ini biasanya, tetapi tidak selalu, berkaitan secara bermakna dengan masalah-masalah dalam pekerjaan dan kinerja sosial.
Gejala
Orang-orang dengan gangguan kepribadian memiliki ciri-ciri :
  • Hubungan pribadinya dengan orang lain terganggu dalam arti sikap dan perilakunya cenderung merugikan orang lain.
  • Memandang bahwa semua kesulitannya oleh nasib buruk atau perbuatan jahat orang lain, dengan kata lain, penderita gangguan ini tidak pernah merasa bersalah.
  • Tidak memiliki rasa tanggung jawab terhadap orang lain, bersikap manipulatif atau senang mengakali, mementingkan diri sendiri, tidak punya rasa bersalah, dan tidak mengenal rasa sesal bila mencelakakan orang lain.
  • Orang dengan gangguan kepribadian tidak pernah dapat menjelaskan diri dari pola perilaku tingkah lakunya yang adaptif.
  • Selalu menghindari tanggung jawab atas masalah-masalah yang mereka timbulkan.
Tipe-tipe personality disorder
Tipe-tipe personality disorder sangat bervariasi karena menyangkut permasalahan sosial. Akan tetapi, secara umum dapat digolongkan dalam tiga kelompok, yaitu :
1. Cluster I
Personality disorder yang bersifat paranoid, schizoid, dan schizotypal.
2. Cluster II
Personality disorder yang bersifat histrionik, narcisistic, antisosial, borderline.
3. Cluster III
Personality disorder yang bersifat avoidence, dependent, obsessive-compulsive, dan passive-agresive.
Paranoid Personality Disorder
Individu dengan gangguan ini biasanya mencurigai, hypersensitive, rigid, anxious (pencemburu) dan argumentatif (suka berdebat). Mereka cenderung melihat diri sendiri sebagai yang baik, yang tidak memiliki cacat, dan jarang mampu melihat kekurangan dirinya, meskipun dia tahu. Ciri dari Paranoid personality disorder adalah penghayatan, ketidakberalasan, dan ketidakpercayaan pada orang lain. Orang dengan gangguan ini meyakini bahwa orang lain secara kronis mencoba untuk menipu atau mencurigai mereka, atau memanfaatkan mereka dan terokupasi dengan memperhatikan kesetiaan dan sifat-sifat yang dapat dipercaya dari orang lain.
Orang-orang paranoid menolak untuk berargumentasi secara rasional melwan kecurigaan mereka dan mungkin mengambil fakta bahwa orang lain mendebat mereka dengan bukit-bukti mereka bahwa orang tersebut merupakan bagian dari konspirasi untuk melawan mereka. Beberapa orang paranoid menjadi pendiam terhadap orang lain dalam usaha untuk melindungi diri mereka sendiri, tetapi yang lainnya merupakan orang yang agresif dan arogan, menunjukkan bahwa cara mereka memandang dunia adalah benar dan superior.
Ahli-ahli teori psikoanalisa berpendapat bahwa Paranoid personality disorder adalah hasil dari kebutuhan orang-orang untuk menolak perasaan yang sebenarnya dan memproyeksikan perasaan tersebut ke dalam diri orang lain. Bagi beberapa ornag yang mengalami paranoid, rasa permushan mereka terhadap orang lain mungkin berasal dari adanya perasaan self-worth (penghargaan diri) secara berlebih-lebihan, sedangkan pada yang lainnya mungkin hal tersebut berasal dari poor self-concept (konsep diri yan lemah atau kurang) dan harapan bahwa orang lain akan mengkritisi dan menyalahkan mereka atas berbagai masalah. Sikap ini dapat tumbuh pada anak-anak yang memiliki orangtua yang kasar, suka mengkrtik, dan tidak dapat menerima berbagai kelemahan. Sikap ini juga dapat tumbuh karena orangtua yang terlalu menekankan kepada anak-anak mereka bahwa mereka special (khusus) dan berbeda dengan orang lain.
Schizoid Personality Disorder
Schizoid menggambarkan adanya relasi sosial yang rusak atau kurang harmonis, misalnya tidak mampu dan mengalami kekurangan dalam keinginan –keinginan untuk membangun kedekatan dengan orang lain. Orang-orang dengan schizoid personality disorder kurang berhasrat untuk membentuk hubungan interpersonal dan secara emosional dingin dalam berinteraksi dengan orang lain.Mereka senang kesunyian dan cenderung menunjukkan sedikit emosi dalam berinteraksi dengan orang lain. Mereka memandang hubungan dengan orang lain sebagai hal yang tidak menyenangkan, kacau, dan mengganggu. Orang lain merasakan mereka sebagai orang yang membosankan, kurang memiliki minat, dan tidak senang bergurau (humoris).
Ahli-ahli teori psikoanalisis berpendapat bahwa schizoid personality disorder dibangun melalui hubungan ibu dan anak yang terganggu, dimana anak tidak pernah belajar untuk memberi atau menerima kasih sayang. Anak ini menunjukkan hubungan dan emosi-emosi sebagai hal yang berbahaya dan selanjutnya mereka berdua tetap jauh dari orang lain dan juga dari perasaan-perasaan mereka sendiri. Sedangkan para ahli teori kognitif menggambarkan gaya berpikir dari orang-orang schizoid sebagai orang yang tidak memperbaiki diri dan tidak respondif terhadap tanda-tanda yang mrenunjukkan emosi.
Schizotypal Personality Disorder
Gangguan ini merupakan pola berpikir yang khas; dalam bicara dan dalam persepsi tidak aktual, sehingga merusak komunikasi dan interaksi sosial. Seperti halnya schizoid personality disorder, orang dengan schizotypal personality disorder cenderung terisolasi secara sosial dan menjaga jarak emosi, sehingga mereka pun merasa tidak nyaman dalam membangun hubungan sosial. Saat anak-anak, orang-orang yang memiliki gangguan schizotypal personality disorder adalah pasif, secara sosial tidak terlibat, dan terlalu sensitif terhadap kritik. Perbedaan karAkteristik dari orang-orang lainnya adalah bahwa penderita schizotypal personality disorder tampak ganjil dalam berpikir, dimana secara umum terbagi ke dalam empat kategori :
· Kategori pertama adalah paranoia atau spiciousness (bersifat paranoid dan selalu mencurigai). Sebagaimana halnya orang-orang dengan paranoid personality disorder, orang-orang schizotypal personality disorder menganggap orang lain sangat curang dan memusuhi, sehingga banyak kecemasan-kecemasan darurat yang mereka milii berasal dari sifat paranoid ini.
· Kategori kedua adalah referensi ide. Orang-oranag dengan schizotypal personality disorder cenderung meyakini bahwa kejadian-kejadian acak yang ada di sekitarnya berkaitan dengan mereka.
· Kategori ketiga dari kognisi yang ganjil adalah keyakinan aneh dan pemikiran-pemikiran magis. Sebagai contoh, mereka mungkin mempercayai atau meyakini bahwa orang lain mengetahui apa yang mereka pikirkan.
· Kategori keempat dari pikiran yang aneh adalah ilusi yang merupakan halusinasi yang singkat. Pada prinsipnya terdapat perbedaan antara ilusi dan halusinasi. Sebagai contoh, mereka mungkin berpikir bahwa mereka melihat orang-orang dalam pola-pola dari kertas gambar yang menempel di dinding.
Teori-teori psikoanalisis atau teori-teori kognitif mengenai schizotypal personality disorder tidak banyak ditemukan. Teori-teori psikologi tidak memberikan perhatian yang besar pada gangguan ini karenasangat dekat sekali kaitannya dengan schizophrenia.
Histrionik
Gangguan ini ditandai oleh adanya self-dramatitation, tampil selalu lebih dari yang seharusnya, terlalu terlihat tampil menarik, kecenderungan untuk mudah terganggu dan adanya sifat-siat temperamen untuk menampiljan jika keinginannya untuk menarik perhatian tidak terpenuhi. Histrionic personality disorder bersama-sama tampil dengan borderline personality disorder, termasuk pergantian emosi secara cepat dan kuat, menunjukkan hubungan yang tidak stabil. Akan tetapi, orang-orang dengan borderline personality disorder seringkali menghilangkan diri dalam usaha-usaha untuk memperoleh perhatian orang lain sedangkan histrionic personality disorder ingin menjadi pusat perhatian.
Para ahli teori psikodinamika melihat gangguan ini sebagai hasil dari kebutuhan-kebutuhan akan ketergantungan yang sangat mendalam dan merupakan repres-represi dari emosi, hambatan dari resoluysi dari setiap tahap oral atau tahap oedipal. Para ahli teori kognitif berpendapat bahwa asumsi dasar yang mengarahkan orang-orang bertingkah laku histrionik adalah “aku tidak cukup dan tidak mampu menangani hidup dengan caraku sendiri”. Secara khusus, orang-orang histrionik bekerja untuk mendapatkan kepedulian dari orang lain atas dirinya sendiri dengan mencari perhatian dan dukungan mereka.
Narcissistic
Karakteristik Narcissistic personality disorder mirip dengan karakteristik histrionic personality disorder. Dalam kedua gangguan ini, individu bertindak secara dramatis dan cara yang sangat besar atau berlebihan, mencari ketakjuban dari orang lain, tetapi memiliki kedangkalan dalam ekspresi emosinya serta dalam menjalin hubungan dengan orang lain. Sigmund Freud memandang narcisisme sebagai fase yang dilalui semua anak sebelum menyalurkan cinta mereka kepada diri mereka sendiri dan orang-orang yang berarti (significant person). Anak-anak dapat terfiksasi pada fase narsisistik ini jika mereka mengalami bahwa orang-orang yang mengasuhnya tidak dapat dipercaya dan memutuskan bahwa mereka hanya dapat bersandar pada diri mereka sendiri atau jika mereka memiliki orangtua yang selalu menuruti mereka dan menanamkan pada diri mereka suatu perasaan bangga atas kemampuan dan harga diri mereka.
Ahli psikodinamika berpendapat bahwa orang-orang yang narsisistik secara aktul menderita self-esteem rendah, dna merasakan kekosongan dannyeri sebagai hasil dari penolakan dari orangtua, dan bahwa perilaku-perilaku narsisistik merupakan reaksi formasi untu menghadapi masalah-masalah tersebut melalui pengahargaan terhadap diri sendiri (self-worth). Sedangkan dari sudut pandang teori belajar sosial, Millon menemukan bahwa asal dari gaya narsisistik adalah evaluasi berlebihan yang tidak realistik mengenai nilai anak-anak oleh orangtua. Anak tidak mampu untuk menggapai pada evaluasi-evaluasi orangtuanya mengenai dirinya tetapi secara berkelanjutan bertindak seolah-olah dia merupakan orang yang superior dan menuntut orang lain melihat melihat mereka sebagai orang yang superior.
Antisosial
Gangguan ini ditandai oleh ciri-ciri kurangnya perkembangan moral dan tidak mampu membedakan mana yang pantas baginya dibandingkan dengan orang-orang yang lebih muda baginya. Antisocial personality disorder telah dikenal dengan berbagai macam nama sebagai suatu gangguan yang serius. Selama lebih dari dua abad menggunakan istilah moral insanity untuk menggambarkan orang-orang dengan kontrol diri yang lemah dan tidak memperhatikan kebenaran-kebenaran bagi orang lain. Di tahun 1891, Koch menggunakan istilah psychopathic untuk individu seperti itu. Ciri kunci dari antisocial personality disorder adalah melemahnya atau rusaknya kemampuan untuk membentuk hubungan positif dengan orang lain dan kecenderungan untuk menggunakan perilaku-perilaku yang bertentangan dengan dasar-dasar norma dan nilai-niali sosial.
Orang dengan gangguan ini merupakan orang yang dingin dan tidak berperasaan, memperoleh kesenangan melalui persaingan dengan siapapun dan menghina siapa saja. Karakteristik yang paling menonjol dari antisocial personality disorder adalah tidak adanya atau hilangnya pengendalian atas impuls-impulsnya. Orang-orang dengan gangguan ini memiliki toleransi akan frustrasi yang rendah dan seringkali bertindak tergesa-gesa, tanpa menunjukkan perhatian atas konsekuensi perbuatan-perbuatannya.
Borderline
Gangguan ini ditandai oleh adanya impulsiveness, berlebih-lebihan, perubahan suasana hati yang drastis, perasaan mengganggu yang sifatnya kronis, dan adanya upaya-upaya untuk menyakiti diri sendiri, untuk mendapatkan sesuatu. Kelabilan merupakan kunci utama gambaran orang yang menderita borderline personality disorder. Terdapat pula gejala paranoid pada penderita ini. Misalnya kalau ada seorang teman yang membatalkan janjinya untuk bertemu, karena suatu kepentingan yang tidak dapat ditinggalkan atau karena sakit, maka bisa saja penderita menafsirkannya sebagai tidak mau bertemu dengan dirinya.
Para ahli psikoanalisis, terutama generasi relasi objek sangat tertarik terhadap gangguan ini. Menurut mereka penderita adalah orang-orang yang sangat kurang berkembang dalam pandangannya mengenai diri mereka sendiri dan orang lain. Kondisi ini berasal dari lemahnya relasi mereka di masa kecil dengan pengasuhnya terutama orangtua. Pengasuh ini bertindak dengan akibat adanya ketergantungan penderita pada awal kehidupannya. Tetapi mendapat hukuman pada saat individuasi dan pemisahan sehingga tidak pernah secara sungguh-sungguh belajar membedakan pandangannya terhadap pengasuh dan terhadap orang lain. Hal ini menyebabkan mereka secara ekstrim reaktif terhadap pendapat orang lain kemungkinan dilepaskan orang lain.
Avoidance
Gangguan ini ditandai oleh adanya ciri sangat sensitif terhadap penilaian orang lain, sehingga sukar untuk menolak kehendak orang lain atau menghalangi lingkungan sosial. Gangguan ini menarik perhatian pada peneliti, lebih dari gangguan kepribadian yang didasari kecemasan dan ketakutan lainnya, seperti gangguan kepribadian tergantung dan gangguan kepribadian obsesif-kompulsif. Penderita gangguan kepribadian avoidant ini memiliki perasaan inadequacy dan pervasive, ada ketakutan mendapat kritik yang menyebabkan ia menjauhi hampir semua tipe interaksi sosial. Perilakunya hampir sama dengan penderita fobia sosial, tetapi penderita fobia ini tidak memiliki perasaan diri kurang adekuat dan tidak kompeten secara sosial.
Dependent
Gangguan ini ditandai adanya kesukaran dalam berpisah dengan ornag lian, dan interaksi sosialnya diwarnai oleh adanya kecemasan, tetapi bukan karena takut mendapat kritik dari lingkungannya melainkan karena ingin senantiasa dirindukan, disayangi, yang pada akhirnya membuat ia menjadi seorang yang tergantung pada orang lain. Teori psikoanalitis melihat gangguan kepribadian dependent ini hasil dari fiksasi fase oral perkembangan psikoseksual. Para pengasuhnya sangat mengikuti apa yang dibuthkkan penderita di masa kecil atau menuntut perilaku dependent dari penderita sebagai imbalan dari pengasuh. Akibatnya, merkea tidak dapat mengembangkan perilaku sehat yang tidak tergantung pada pengasuhnya itu.
Obsesive-Compulsive
Gejala dari Obsesive-Compulsive personality disorder secara umum memperlihatkan persamaan dengan Obsesive-Compulsive disorder. Perbedaannya adalah bahwa dalam ganghuan kepribadian obsesif-kompulsif lebih memperlihatkan gejala-gejalanya dalam hubungan dengan interaksi sosial dan lingkungannya. Pada kondisi normal, tidak sednag kumat, mereka adalah orang-orang yang workaholic dan tampak sebagai seorang yang tidak membutuhkan kegiatan senang-senang atau persahabatan. Biasanya ditemukan juga bahwa mereka tampak sebagai seorang yang sangat moralistik, formal, dan posesif. Meskipun sangat mempedulikan efisiensi, namun perfeksionisme dan obsesi terhadap mengikuti aturan sering mengganggu penyempurnaan pelaksanaan tugas.
Passive-Agressive dan Self-Defeating
Terdapat dua konsep utama dalam gangguan ini, yaitu assertiveness dan self-defeating. Gangguan ini ditandai oleh adanya kekurangan dalam assertiveness (keamampuan untuk menunjukkan atau mengutarakan perasaan atau pendapat termasuk yang berbeda dengan orang lain tanpa harus melukai) melalui cara-cara penuh dendam yang tidak langsung, seperti prokrastinasi, melupakan secara intensional, dan stubborness. Adapun self-defeating ditandai dengan adanya penolakan terhadap pengalaman-pengalaman menyenangkan. Penderita gangguan kepribadian psif-agresif ini pada umunya memperlihatkan rasa dendam secara tidak langsung atau dengan cara yang tidak kasar, seperti menangguh-nangguhkan, pouting, melupakan, atau menjadi penghambat, keras kepala atau secara intensional inefisien.
Gangguan kepribadian self-defeating merupakan suatu poal ekstensif perilaku yang ditandai oleh penolakan individu terhadap pengalaman-pengalaman yang justrru menyenangkan dan keterlibatan yang terus menerus untuk tidak memenuhi janji dalam berelasi. Pendertia tampil hampir secara magnetis menghukum orang lain dan menolak usaha-usaha orang lain untuk menolongnya dari penderitaan ini. Kepribadian smeacam ini gagal memenuhi tugas dan tujuan yang sulit bagi tujuan pribadinya dalam mendendam fakta bahwa mereka memiliki kemampuan untuk mencapainya.
TERAPI UNTUK GANGGUAN KEPRIBADIAN
  1. TERAPI OBAT
Obat antidepresan atau antikecemasan dapat digunakan untuk mengendalikan simtom namun tidak dapat mengubah pola perilaku yang mendasarinya. Misalnya, obat antidepresan Prozac dapat mengurangi perilaku agresif dan iritabilitas dalam diri individu dengan gangguan kepribadian yang impulsif dan agresif.
  1. TERAPI PSIKODINAMIKA
Tujuan → mengubah sudut pandang klien terhadap masalah di masa kecil → diasumsikan menjadi penyebab yang mendasari gangguan kepribadian.
  1. TERAPI BEHAVIORAL DAN KOGNITIF
Untuk mendorong tingkah laku yang lebih adaptif, untuk mengembangkan keterampilan sosial yang lebih efektif, dan untuk menggantikan cara berpikir yang salah dengan alternatif rasional.
Fokus perhatiannya pada situasi daripada trait, tidak terlalu membicarakan treatment spesifik yang dirancang oleh DSM.
Terapis-terapis cenderung melakukan analisis masalah individual yang merefleksikan gangguan kepribadian.
Misalnya, terapis behavioral membantu dengan Social skill training dan setting support group dalam mendorong pasien dengan kepribadian menghindar supaya lebih asertif terhadap orang lain.
  1. ACCEPTANCE IN DIALECTICAL BEHAVIOR THERAPY
Dimunculkan oleh Marsha Linehan, karena menduga bahwa penerimaan individu klien sangat penting dalam terapi tingkah laku dialektika. Model terapi yang digunakan seperti model Therapist-Client Centered.
KASUS
Melati adalah anak berumur 7 tahun yang diadopsi oleh sepasang suami isteri yang sudah lanjut usianya (sekitar 60 tahun). Sang ibu angkat sering menonton acara kriminal di TV seperti Buser, sergap, patroli, dan sebagainya. Sang ibu sangat takut bila Melati di culik dan atau diperkosa orang. Lalu sang ibu sering mengingatkan melati untuk menjauhi orang asing terutama laki-laki. Dikatakan pada Melati bahwa laki-laki itu jahat dan suka menculik serta memperkosa anak perempuan. Melati sendiri jarang bermain dan bergaul dengan teman-teman sebayanya di lingkungan rumahnya.
Disekolah Melati tidak mau duduk didekat anak laki-laki, Melati pun sering mengancam anak lain di kelasnya ”Aku akan membunuhmu, ketika kamu tidur aku akan menusuk kamu dengan gunting” hal ini jelas membuat anak lain sangat ketakutan. Melati sama sekali tidak punya motivasi, dan merasa dirinya bodoh atau tidak mampu ketika mengerjakan soal ”Aku tidak bisa, Ms!” Kata yang sering diucapkan dengan memelas dan putus asa ketika mengerjakan soal, praktis guru harus mendampingi dan terus memotivasinya. Ketika ulangan/ujian guru yang duduk di meja memperhatikan dari jauh bahwa melati sangat sibuk dan tekun mengerjakan ulangan ternyata yang dikerjakan Melati adalah menulis asal jawabannya/mencoret-coret lalu dihapus kembali begitu seterusnya berulang-ulang, seolah-olah dia nampak sibuk mengerjakan soal-soal ulangan. Ketika guru akan mengoreksi ulangan, ternyata kertas ulangan Melati tidak ada padahal guru sangat yakin dan melihat sendiri bahwa Melati sudah mengumpulkan kertas ulangan tersebut, setelah diselidiki ternyata diam-diam Melati mengambil kembali kertas ulangan dari laci meja guru lalu meremas-remas kertas tersebut dan disembunyikan di laci mejanya sendiri.
Pada suatu hari Melati mencuri gelang tangan (terbuat dari plastik, dan disimpan dalam tas) salah satu guru dikelasnya, lalu dia memakai gelang itu dan dengan bangga memamerkan gelang itu. Ketika guru yang mempunyai gelang itu melihat gelang tersebut, ia sangat kaget dan meminta pada Melati untuk mengembalikan gelang tersebut padanya, namun Melati bersikeras bahwa gelang itu adalah miliknya dan menolak untuk mengembalikan gelang itu. Guru tersebut sangat mengenali gelang itu lalu ia berkata ”Kalau dibalik gelang ini ada tulisan Ms. Dwi berarti ini punyaku...” dan Melati dengan berani dan tegas mengatakan ”baik coba liat aja sendiri”. Dan ternyata benar dibalik gelang itu ada nama Ms. Dwi. Kemudian dengan tanpa merasa bersalah dan tidak gugup, Melati pun berkata ”O...Aku gak tahu, udah ada di dalam tasku kok. Kok bisa yaa..?!”. Dari sini nampak jelas Melati berusaha memanipulasi dan berbohong..bayangkan baru kelas satu SD saat itu. Menurut aku perbedaan usia yang sangat jauh antara Melati dengan orang-tua adopsinya serta masukan-masukan (Negative Affirmation) yang belum tepat untuk usianya meracuni perkembangan psikis dan sosialisasinya. Melati sudah diracuni tentang gambaran dunia (terutama pria) yang kejam, menakutkan, dan penuh kriminalitas oleh orang tua adopsinya. Seharusnya sebagai orang tua harus menjelaskan sesuatu sesuai dengan perkembangan bahasa, kognitif, dan psikis anak. Dunia anak adalah dunia yang penuh bermain, mimpi yang indah, dan polos tanpa prasangka. Seharusnya orang tua cukup mengatakan pada anak usia 3-6 tahun misalnya ”Nak, Kalo ada orang yang tidak kamu kenal mendekati kamu...jauhi dia. Kalo orang asing itu memberikan makanan atau minuman kamu harus menolaknya dengan sopan, kalo ia menyentuhmu berteriaklah yang keras”, menurut saya itu sudah cukup dikatakan dan diajari pada anak-anak kita kalau kita mengkhawatirkan keselamatan anak kita. Saya sangat percaya kondisi lingkungan bisa mempengaruhi dan membentuk perilaku juga kepribadian seseorang (bisa saja jadi kepribadian yang tegar dan adaptif, namun bisa juga sebaliknya akan membentuk kepribadian seseorang menjadi lemah dan negatif, ingat kasus pembunuh termuda di Inggris. Bagaimana pun juga faktor lingkungan (Nature) bisa memberi pengaruh pada seseorang)

Artikel yang berhubungan: