Cari Jodoh Malang, Biro Jodoh Malang, kontak Jodoh Malang atau bisa juga PAKET WISATA KE PULAU TIDUNG MURAH 2017 LENGKAP jika anda ingin bisnis harus mampu pilih Jasa SEO bergaransi, semoga bermanfaat.
Home » »

Kekacauan Suasana hati Dan Bunuh diri


Kekacauan Suasana hati Dan Bunuh diri

Kekacauan Suasana hati Dan Bunuh diri
A. Definisi
1. Mood Disorder
Gangguan pada mood yang berlangsung sangat lama tidak seperti biasanya atau parah dan cukup serius sehingga menghambat fungsi sehari-hari.
B. Tipe-Tipe Gangguan Mood
Gangguan mood dibagi menjadi dua garis besar:
Gangguan-gangguan Depresi (unipolar)
Gangguan depresi ini dianggap unipolar karena gangguan ini terjadi hanya pada satu arah atau kutub emosional-ke bawah. Gangguan-gangguan Depresi ini dibagi menjadi dua gangguan lagi, yaitu:
1. Gangguan Depresi Mayor
Gangguan depresi mayor adalah suatu gangguan mood yang parah yang ditandai dengan episode-episode depresi mayor. Diagnosis dari gangguan depresi mayor didasarkan pada satu atau lebih episode depresi mayor tanpa adanya riwayat episode manik atau hipomanik. Dalam episode depresi mayor, orang tersebut mengalami salah satu diantara mood depresi (merasa sedih, putus asa, atau ”terpuruk”) kehilangan minat, rasa senang atau berbagai aktivitas untuk episode waktu paling sedikit 2 minggu (APA, 2000). Orang dengan depresi mayor biasanya dapat kehilangan minat pada hampir semua aktivitas rutin dan kegiatan senggang mereka. Mereka juga mengalami kesulitan dalam membuat keputusan dan berkonsentrasi pada sesuatu hal, memiliki pikiran yang menekankan pada kematian dan mencoba bunuh diri.
Gangguan depresi mayor adalah tipe yang paling umum dari gangguan mood yang dapat didiagnosis, dengan perkiraan prevalensi semasa hidupnya wanita lebih banyak mengalaminya dibandingkan pria (APA,2000). Depresi mayor, khususnya pada episode yang lebih parah atau lebih berat, dapat disertai dengan ciri psikosis, seperti dengan delusi bahwa tubuhnya digerogoti penyakit (Coryell dkk., 1996). Orang dengan dengan depresi berat juga dapat mengalami halusinasi, seperti ”mendengar” suara-suara orang lain, atau iblis yang seolah-olah mengutuk mereka atas kesalahan yang dipresepsikan.
Di bawah ini adalah ciri-ciri dari suatu episode depresi mayor yang digunakan untuk mendiagnostik gangguan depresi mayor. Suatu episode depresi mayor ditandai dengan munculnya lima atau lebih ciri-ciri atau simtom-simtom di bawah ini selama suatu periode 2 minggu. Paling tidak satu dari ciri-ciri tersebut harus melibatkan (1) mood yang depresi, atau (2) kehilangan minat atau kesenangan dalam beraktivitas.
a. Mood yang depresi hampir sepanjang hari, dan hampir setiap hari. Dapat berupa mood yang mudah tersinggung pada anak-anak atau remaja.
b. Penurunan kesenangan atau minat secara drastis dalam semua atau hampir semua aktivitas, hampir setiap hari, hampir sepanjang hari.
c. Suatu kehilangan atau pertambahan berat badan yang signifikan (5% dari berat tubuh dalam sebulan), tanpa upaya apa pun untuk berdiet, atau suatu peningkatan atau penururnan dalam selera makan.
d. Setiap hari (hampir setiap hari) mengalami insomnia atau hipersomnia (tidur berlebihan).
e. Agitasi yang berlebihan atau melambatnya respons gerakan hampir setiap hari.
f. Perasaan lelah atau kehilangan energi hampir tiap hari.
g. Perasaan tidak berharga atau salah tempat ataupun rasa bersalah yang berlebihan atau tidak tepat hampir tiap hari.
h. Berkurangnya kemampuan untuk berkonsentrasi, berpikir jernih atau membuat keputusan hampir setiap hari.
i. Pikiran yang muncul berulang-ulang tentang kematian atau bunuh diri tanpa suatu rencana yang spesifik, atau munculnya suatu percobaan bunuh diri atau rencana yang spesifik untuk melakukan bunuh diri.
Episode-episode depresi mayor dapat berlangsung dalam jangka bulanan atau satu tahun atau bahkan lebih (APA, 2000; USDHHS, 1999a). Umumnya orang yang pernah mengalami gangguan episode depresi mayor dapat kambuh lagi diantara periode normal. Dengan adanya pola kemunculan berulang dari episode depresi mayor, depresi mayor disebut sebagai gangguan kronis, bahkan sepanjang hidup.
Bentuk-bentuk dari depresi mayor antara lain adalah:
a Gangguan afektif musiman
Sering disebut juga dengan SAD (seasonal affective disorder) yaitu suatu perubahan mood yang dipengaruhi oleh perubahan musim atau cuaca yang dapat merubah ritme biologis pada tubuh yang mengatur temperatur tubuh dan siklus tidur-bangun (Lee dkk., 1998). Ciri-ciri orang yang mengalami SAD antara lain rasa letih, tidur yang berlebihan, lapar akan karbohidrat dan berat badan naik. Lebih banyak terjadi pada wanita dibanding pria dan terjadi pada masa dewasa muda.
b. Depresi pasca melahirkan
Terjadi beberapa hari setelah proses melahirkan yang menyebabkan perubahan proses hormonal. Depresi pasca melahirkan disebut juga dengan postpartum depression (PPD). PPD sering kali ditandai dengan gangguan dalam selera makan dan tidur, self esteem yang rendah, serta kesulitan-kesulitan dalam mempertahankan konsentrasi atau perhatian. Depresi pasca melahirkan dianggap sebagai suatu bentuk depresi mayor yang onset dari episode depresinya bermula dari jangka waktu 4 minggu setelah melahirkan (APA,2000). Depresi pasca melahirkan biasanya lebih ringan dibandingkan bentuk-bentuk depresi mayor lainnya dan relatif cepat sembuh (whiffen & gotlib, 1993).
2. Gangguan Distimik
Berasal dari bahasa Yunani yaitu dysthimia di mana dys- yang berarti buruk dan thymos yang berarti spirit. Gangguan distimik merupakan suatu bentuk depresi kronik yang lebih ringan daripada gangguan depresi mayor. Meski gangguan distimik lebih ringan daripada gangguan depresi mayor, mood tertekan atau dan self esteem rendah yang terus menerus dapat mempengaruhi fungsi pekerjaan dan sosial orang tersebut
Gangguan Perubahan Mood (bipolar)
Gangguan depresi ini dianggap bipolar karena gangguan ini melibatkan ekses baik depresi maupun rasa girang, biasanya dalam pola bergantian. Gangguan-gangguan Depresi ini dibagi menjadi dua gangguan lagi, yaitu:
1. Gangguan bipolar
Adalah suatu gangguan yang ditandai dengan perubahan mood antara rasa girang yang ekstreem dan depresi yang parah. Episode dari gangguan bipolar dapat berupa manik atau depresi. Dalam episode manik, biasanya bertahan beberapa minggu hingga beberapa bulan. Episode manik sendiri adalah suatu periode peningkatan euforia yang tidak realistis, sangat gelisah, dan aktivitas yang berlebihan, yang ditandai dengan perilaku yang tidak terorganisasi dan hendaya dalam penilaian.
Ciri-ciri dalam episode manik:
a. Mood yang melambung atau mudah tersinggung selama sekurang-kurangnya seminggu.
b. Meningkatnya kadar aktivitas dalam pekerjaan, secara sosial, dan seksual.
c. Lebih banyak bicara dibanding biasanya; berbicara dengan cepat.
d. Pikiran yang melompat-lompat atau kesan yang subjektif bahwa berbagai pikiran seolah berkejaran.
e. Memerlukan tidur lebih sedikit dari biasanya.
f. Harga diri yang melambung;yakin bahwa ia memiliki bakat istimewa, kekuatan dan kemampuan
g. Mudah terganggu, perhatian beralih dengan mudah.
h. Keterlibatan yang berlebihan dalam berbagai aktivitas yang menyenangkan yang kemungkinan memiliki konsekuensi yang tidak diinginkan, seperti berbelanja tanpa perhitungan.
Menurut DSM gangguan bipolar umum dibagi menjadi 2:
- Gangguan bipolar I
Orang tersebut paling tidak mengalami satu episode manik secara penuh, individu biasanya mengalami perubahan mood antara rasa girang dan depresi dengan diselingi periode antara berupa mood normal.
- Gangguan bipolar II
Diasosiasikan dengan suatu bentuk maniak yang lebih ringan. Pada gangguan ini seseorang akan mengalami satu atau lebih episode-episode depresi mayor dan paling tidak satu episode hipomanik. Namum orang tersebut tidak pernah mengalami episode manik secara penuh.
2. Gangguan Siklotimik
Gangguan siklotimik berasal dari kata yunani kyklos yang berarti ”lingkaran” dan thymos (”spirit”). Ganguan ini diartikan sebagai tipe gangguan bipolar yang ditandai dengan suatu pola yang kronis dari perubahan mood ringan yang kadang-kadang meningkat menjadi gangguan bipolar. Berawal pada masa dewasa dan berlangsung selama bertahun-tahun.
C. Etiologi
Faktor-faktor biologis:
* Predisposisi genetik
* Fungsi neurotransmiter yang terganggu
* Abnormalitas pada bagian otak yang mengatur kondisi mood
* Keterlibatan sistem endokrin yang memungkinkan dalam kondisi mood
Faktor-faktor sosial lingkungan:
* Peristiwa hidup yang penuh tekanan, seperti kehilangan seseorang yang dicintai atau lama menganggur.
Faktor-faktor behaviorial:
* Kurangnya reinforcement
* Interaksi yang negatif dengan orang lain, menghasilkan penolakan
Faktor-faktor emosional dan kognitif:
* Dalam teori psikoanalisis klasik, kemarahan diarahkan ke dalam
* Kesulitan emosional dalam melakukan copyng atas kehilangan orang yang dikasihi
* Kurangnya makna atau tujuan dalam kehidupan
* Cara berpikir yang bias atau terdistorsi secara negatif, atau suatu gaya atribusional yang cenderung depresi

Artikel yang berhubungan: