TRAVEL, EVENT, WEDDING, WISATA, SEWA, JUAL BELI. Bagi kita yang ingin melakukan kegiatan khususnya di bandung, maka kita harus sudah faham tentang apa yang mau kita lakukan terkait kegiatan di bandung itu. Memahami semua jenis kegiatan yang mau kita lakukan bisa menjadi sangat penting, agar kita tidak kebingungan saat melakukan kegatan itu.
Event Wedding OrganizerORGANIZER EVENT WEDDING
Jika kita tidak cukup faham tentang kegiatan yang mau kita lakukan di bandung lebih baik kita menggunakan jasa Event organizer bandung / Wedding Organizer bandung untuk menghandle seluruh kegiatan di bandung itu. Dengan dukungan dari event organizer, maka semua kegiatan bisa dibantu, mulai dari persiapan, pelaksanaan, bahkan sampai akhir event. Wedding juga begitu, di bandung acara wedding sangat butuh persiapan yang matang juga. Wedding organizer jadi dibutuhkan untuk itu.
Home » »

BESARNYA PENGARUH STRES TERHADAP KESEHATAN


BESARNYA PENGARUH STRES TERHADAP KESEHATAN

Sres dan Depresi dapat memicu perubahan Kesehatan yang tidak langsung disebabkan oleh variabel biologis atau psikologis, namun disebabkan oleh perubahan gaya hidup sehat. Stres yang tinggi dapat menyebabkan semakin tingginya frekuensi merokok, tidur terganggu, meningkatnya konsumsi alkohol, dan berubahnya pola makan (seringkali dianggap sebagai stressor) terbukti berhubungan dengan angka kematian lebih tinggi yang disebabkan beberapa penyakit. Hubungan stres-penyakit merupakan hal yang nyata, namun dimediasi secara tidak langsung melalui perubahan perilaku sehat dan bukan melalui efek biologis langsung dari stres.
Sumber-sumber psikologi dari stres tidak hanya menurunkan kemampuan kita untuk menyesuaikan diri, tetapi secara tajam juga mempengaruhi kesehatan kita. Stres meningkatkan resiko terkena berbagai jenis penyakit fisik, dari mulai gangguan pencernaan sampai penyakit jantung (e. g., Cohen dkk, 1993). Bidang ilmu psikoneuroimunologi (psychoneuroimmunology) mempelajari hubungan antara faktor-faktor psikologis, terutama stres, dengan cara kerja sistem endokrin atau kelenjar, sistem kekebalan tubuh, dan sistem saraf (Kiecolt-Glaser & Glaser, 1992; Maier, Watkins, & Fleshner, 1994).
*      Stres dan Sistem Endokrin
Stres mempunyai efek domino dalam sistem endokrin (endocrine system) yaitu sebuah sistem tubuh yang berupa kelenjar yang memproduksi dan melepaskan sekresi yang disebut hormon, langsung ke saluran darah. Sistem endokrin yang terdiri dari kelenjar-kelenjar mendistribusikan hormon ke seluruh tubuh. Beberapa kelenjar endokrin terlibat dalam menampilkan respon tubuh terhadap stres. Hormon-hormon stres yang diproduksi oleh kelenjar adrenal membantu tubuh menyiapkan diri mengatasi stresor atau ancaman. Apabila stresor sudah terlewati, tubuh kembali ke keadaan normal. Selama stres yang kronis, tubuh terus-menerus memompa keluar hormon-hormon yang dapat menyebabkan kerusakan pada keseluruhan tubuh, termasuk menekan kemampuan dari sistem kekebalan tubuh yang melindungi kita dari berbagai infeksi dan penyakit.
 
*      Stres dan Sistem Kekebalan
Sebenarnya tubuh kita mempunyai kekuatan untuk menghadapi penyakit melalui fungsi sistem kekebalan. Sistem kekebalan (immune system) adalah sistem pertahanan tubuh melawan penyakit. Berjuta sel darah putih yang disebut leukosit (leukocytes) adalah pasukan system kekebalan tubuh dalam peperangan mikroskopis. Leukosit secara sistematis menyelubungi dan membunuh patogen seperti bakteri, virus, dan jamur; sel-sel tubuh yang sudah rusak; dan sel-sel kanker. Leukosit mengenali patogen-patogen yang menyerang dari lapisan permukaan mereka yang disebut antigen (antigens), atau bisa dikatakan sebagai generator antibody. Beberapa leukosit memproduksi antibody (antibodies) protein khusus yang melekat pada sel-sel yang dianggap asing, menonaktifkan sel-sel tersebut, memberi tanda bagian mana yang harus dihancurkan. Melemahnya sistem kekebalan tubuh membuat kita rentan terhadap penyakit umum seperti demam dan flu, dan meningkatkan resiko berkembangnya penyakit kronis termasuk kanker. Adanya sumber stres fisik seperti udara dingin atau suara keras, apalagi bila terjadi secara intens dan dalam jangka waktu lama, akan dapat mengurangi fungsi kekebalan. Sebagai contoh, penelitian terhadap sejumlah mahasiswa kedokteran menunjukkan bahwa fungsi kekebalan tubuh mereka menurun pada waktu musim ujian dibandingkan fungsi kekebalan pada waktu satu bulan sebelum ujian, pada saat hidup mereka lebih tidak stres (Glaser dkk, 1987). Stres karena mengalami peristiwa traumatis seperti gempa bumi, angina badai, atau bencana alam, dan bencana teknologi lainnya, ataupun kekerasan juga menurunkan fungsi kekebalan tubuh (Ironson dkk, 1997; Solomon dkk, 1997). 
Respon stres melibatkan semua fungsi tubuh, sehingga terlampau besarnya distres yang menghabiskan sumber-sumber adaptif kita dapat menyebabkan kelelahan, beragam masalah kesehatan, dan bahkan akibat yang fatal. Berikut beberapa gangguan-gangguan dan penyakit yang berhubungan dengan stress.

SISTEM PERNAFASAN
SISTEM PENCERNAAN
OTOT DAN SENDI
·   Penyakit jantung koroner (angina dan serangan jantung)
·   Hipertensi (tekanan darah tinggi)
·   Stroke
·   Migren
·     Gangguan pencernaan
·     Nausea
·     Rasa panas dalam perut (pirosis)
·     Bisul dalam perut dan usus dua belas jari
·     Radang usus besar, sindroma usus besar berat
·     Diare
·     Sembelit
·     Kembung perut
·     Pusing
·     Kram
·     Kejang otot
·    Nyeri punggung
·     Nyeri leher

PERILAKU
EMOSIONAL
LAIN-LAIN
·   Makan terlampau banyak-obesitas
·   Hilang selera makan-anoreksia
·   Meningkatnya frekuensi merokok
·   Meningkatnya konsumsi kafein
·   Meningkatnya konsumsi alcohol
·   Penyalahgunaan obat-obatan
·     Kecemasan, termasuk ketakutan, fobia, dan obsesi
·     Depresi
·   Diabetes
·   Kanker
·   Encok (Rheumatiod arthritis)
·   Asma
·   Masuk angin biasa dan flu
·   Gangguan seksual-dorongan seks berkurang, ejakulasi dini, gagal mencapai orgasme, kemandulan
·   Penyakit kulit
·   Gangguan tidur

Faktor-faktor Psikologis dapat mempengaruhi fungsi fisik, faktor-faktor fisik juga dapat mempengaruhi fungsi mental. Gangguan fisik yang diyakini disebabkan atau dipengaruhi faktor psikologis pada masa lalu yang disebut psikosomatis (psychosomatic) atau psikofisiologis.
·         Sakit Kepala
Sakit kepala merupakan simptom dari banyak gangguan medis. Apabila sakit kepala ini terjadi tidak bersamaan dengan gejala-gejala yang lain, maka sakit kepala ini dapat dikelompokkan sebagai gangguan fisik yang berhubungan dengan stres. Stres dapat menyebabkan konstraksi yang kuat terhadap kulit kepala, muka, leher, dan bahu sehingga muncul sakit kepala yang periodik dan kronis. Sakit kepala sebelah atau migren yang parah, diyakini melibatkan perubahan aliran darah ke kepala. Biasanya migren berlangsung selama beberapa jam atau beberapa hari. Sakit ini ditandai dengan rasa yang menusuk di sebelah sisi kepala atau di belakang mata, sakit ini begitu intensnya sehingga tidak tertahankan. Beberapa orang yang mengalami stres menderita gangguan sakit kepala hal ini disebabkan karena individu merespons stresor dengan cara masing-masing yang khas, penderita sakit kepala kelihatnnya merespons stres dengan menegangkan otot-otot kening, bahu, dan leher. Banyak faktor dapat menjadi pemicu munculnya serangan migren. Hal ini termasuk stres; stimuli seperti sinar terang, perubahan dalam tekanan udara; serbuk; obat tertentu; MSG (Monosodium Glutamate) kimiawi, yang sering dipakai bumbu penyedap makanan; anggur merah; dan bahkan kelaparan (martin dan seneviratne, 1997).
·         Penyakit Kardiovaskular (cardiovascular disease) (penyakit jantung dan arteri)
Penyakit jantung koroner (Coronary Heart Disease/ CHD) merupakan penyakit kardiovaskular yang utama. Penyakit jantung koroner dikarenakan aliran darah ke jantung tidak mencukupi kebutuhan. Proses penyakit yang mendasari CHD adalah arteriosclerosis atau “pengerasan arteri”, suatu kondisi dimana dinding arteri menjadi tebal, lebih keras, dan berkurang elastisitasnya, kondisi ini membuat darah sulit mengalir dengan bebas. Sebab utama terjadinya arteriosclerosis adalah atherosclerosis yaitu suatu proses yang menyangkut penimbunan lemak sepanjang dinding arteri yang membuat terjadinya sumbatan. Faktor-faktor resiko terjadinya CHD yaitu berbagai faktor yang tidak dapat dikendalikan seperti usia dan sejarah keluarga. Sejumlah faktor resiko dapat dikendalikan melalui penanganan medis atau perubahan gaya hidup, misalnya faktor-faktor tingginya kolesterol, hipertensi, merokok, makan berlebih, meminum alkohol, mengonsumsi makanan tinggi lemak, dan gaya hidup monoton. Faktor psikologis misalnya emosi-emosi negatif seperti marah dan cemas merupakan faktor resiko terjadinya gangguan kardiovaskular.
Pola kepribadian yang merupakan faktor resiko psikologis dari CHD disebut pola tingkah laku tipe A (type A behavior pattern/ TABP), merupakan suatu gaya tingkah laku seseorang yang menunjukkan ciri-ciri seperti berkemauan keras, ambisisus, tidak sabaran, dan kompetitif tinggi, berhubungan dengan resiko yang lebih tinggi untuk mengalami CHD (T. Q. Miller dkk, 1991). Hostilitas – cepat marah adalah unsur pola tingkah laku tipe A yang paling dekat hubungannya dengan resiko kardiovaskular, dan orang dengan TABP cenderung cepat naik pitam dan mudah marah.
Stres lingkungan sosial tampaknya juga meningkatkan resiko terjadinya CHD (Krantz dkk, 1998). Faktor seperti kerja lembur, pekerjaan yang terus menerus ada, dan menghadapi tuntutan-tuntutan yang saling bertentangan, berhubungan dengan peningkatan resiko CHD (C. D. Jenkins, 1988).
·         Asma
Asma adalah suatu gangguan pernapasan dimana saluran nafas utama yaitu bronkin menyempit dan meradang serta memproduksi lendir atau dahak secara berlebihan selama serangan asma, penderita nafasnya berbunyi, batuk, dan mereka harus berjuang untuk mendapat cukup udara untuk bernafas. Penyebab asma yaitu reaksi alergi; terkena polusi lingkungan, termasuk asap rokok dan kabut asap pabrik; dan faktor genetik serta faktor imunologi. Sebagian penderita asma menghindari aktivitas yang terlalu berat, termasuk berolahraga karena takut kebutuhan oksigennya meningkat dan mendapat serangan.
Asma tidak dapat disembuhkan, tetapi asma dapat dikendalikan dengan mengurangi pemaparan terhadap zat atau bahan yang menyebabkan alergi, dengan terapi disensilisasi untuk membantu tubuh agar lebih resistan terhadap zat atau bahan yang menyebabkan alergi, dengan menggunakan alat bantu nafas (inhaler) dan obat-obatan untuk membuka saluran bronkia selama serangan asma.
·         Kanker
Kanker ditandai dengan berkembangnya sel yang menyimpang, atau mengalami mutasi, sel yang tumbuh (tumor) menjalar ke jaringan yang sehat. Sel-sel kanker dapat berakar dimana saja yaitu dalam darah, tulang, paru-paru, saluran pencernaan, dan organ genital. Hal-hal yang menyebabkan kanker antara lain pemaparan terus menerus terhadap zat kimia penyebab kanker dalam lingkungan dan faktor genetik, seperti gen yang defektif atau mengalami mutasi. Tetapi banyak juga pola perilaku yang turut berperan menimbulkan kanker seperti pola makan (pengonsumsian makanan tinggi lemak), peminum berat alkohol, merokok, dan berjemur di terik matahari (sinar ultraviolet menyebabkan kanker kulit).
Sistem kekebalan tubuh yang melemah atau menurun meningkatkan kerentanan terhadap kanker misalnya faktor-faktor psikologis seperti stres yang dapat mempengaruhi sistem kekebalan tubuh. Stres dapat mempercepat berkembangnya virus penyebab kanker.
·         Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS)
AIDS adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus yang disebut human immunodeficiency virus (HIV). HIV menyerang sistem kekebalan tubuh sehingga membuat tubuh tidak berdaya, tidak mampu mempertahankan diri dari serangan penyakit. HIV menular melalui kontak seksual (senggama vaginal dan anal; kontak oral-genital); melalui transfuse darah yang terkontaminasi, tidak sengaja tertusuk jarum yang pernah digunakan pada orang yang terinfeksi HIV, penggunaan jarum suntik bersama pada pengguna narkoba, dan dari ibu yang sudah terinfeksi ke janin dalam kandungan atau bayi saat dilahirkan dan disusui. Tidak ada obat atau vaksin untuk infeksi HIV, akan tetapi penggunaan obat antiretrofiral yang sangat aktif membawa perubahan dalam penanganan penyakit ini, memberi harapan bahwa penyakit ini dapat menjadi kronis tapi dapat diatur atau dikendalikan.
Penanganan psikologis, khusunya dalam bentuk kelompok pendukung, kelompok  self-help dan kelompok terapi yang terorganisir dapat digunakan untuk menyediakan bantuan psikologis pada mereka yang mengidap HIV/ AIDS dan keluarga serta teman-teman mereka. Penanganan dapat berupa gabungan pelatihan ketrampilan coping aktif seperti teknik manajemen stress antara lain self-relaxation dan imajinasi mental positif serta strategi kognitif untuk mengendalikan pikiran-pikiran dan fokus-fokus negatif yang mengganggu.
*      Stres dan Perubahan Hidup
Cara lain untuk mengetahui hubungan stres dengan penyakit adalah dengan memperhitungkan stres dalam kaitannya dengan perubahan hidup (peristiwa hidup). Perubahan hidup menjadi sumber stres bila perubahan hidup tersebut menuntut kita untuk menyesuaikan diri. Perubahan hidup ini dapat berupa peristiwa menyenangkan seperti pernikahan, dan peristiwa yang menyedihkan seperti kematian orang tercinta.
*      Gangguan penyesuaian
Merupakan suatu reaksi maladaptif terhadap suatu stresor yang dikenali dan berkembang beberapa bulan semenjak munculnya stresor. Reaksi maladaptif ini terlihat dari adanya hendaya yang bermakna (signifikan) dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau akademis, atau adanya kondisi distress emosional yang melebihi batas normal. Reaksi maladaptif dalam bentuk gangguan penyesuaian ini mungkin teratasi bila stresor dipindahkan atau individu belajar mengatasi stresor. Bila reaksi maladaptif ini masih berlangsung lebih dari 6 bulan setelah stresor dialihkan, diagnosis gangguan penyesuaian perlu diubah.
            Menggolongkan “gangguan penyesuaian” sebagai sebuah gangguan mental memunculkan beberapa kesulitan karena tidak mudah mendefinisikan apa yang normal dan tidak normal dalam konsep gangguan penyesuaian.


Menurut DSM-IV-TR (APA, 2000), Subtipe Gangguan Penyesuaian
Gangguan
Ciri-ciri Utama
Gangguan Penyesuaian dengan Mood Depresi
Kesedihan, menangis, merasa tidak punya harapan.
Gangguan Penyesuaian dengan kecemasan
Khawatir, gelisah, dan gugup ( atau pada anak takut berpisah dari figure kelekatan utama).
Gangguan Penyesuaian dengan gejala campuran antara kecemasan dan mood depresi
Kombinasi dari kecemasan dan depresi.
Gangguan Penyesuaian dengan gangguan tingkah laku
Melanggar hak orang lain atau melanggar norma sosial yang sesuai dengan usianya
Gangguan Penyesuaian dengan gejala campuran antara gangguan emosi dan tingkah laku
Gabungan dari gangguan emosi, seperti depresi atau kecemasan, dan gangguan tingkah laku (seperti yang dijelaskan diatas).
Gangguan Penyesuaian tak tergolongkan
Kategori residual yang dapat diterapkan pada kasus-kasus yang tidak dapat digolongkan dalam salah satu subtipe dari subtipe lainnya.

Stres dapat memicu perubahan kesehatan yang tidak langsung disebabkan oleh variabel biologis atau psikologis, namun disebabkan oleh perubahan gaya hidup sehat. Stres yang tinggi dapat menyebabkan semakin tingginya frekuensi merokok, tidur terganggu, meningkatnya konsumsi alkohol, dan berubahnya pola makan (seringkali dianggap sebagai stresor) terbukti berhubungan dengan angka kematian lebih tinggi yang disebabkan beberapa penyakit. Hubungan stres-penyakit merupakan hal yang nyata, namun dimediasi secara tidak langsung melalui perubahan perilaku sehat dan bukan melalui efek biologis langsung dari stres.

Artikel yang berhubungan: