Cari Jodoh Malang, Biro Jodoh Malang, kontak Jodoh Malang atau bisa juga PAKET WISATA KE PULAU TIDUNG MURAH 2017 LENGKAP jika anda ingin bisnis harus mampu pilih Jasa SEO bergaransi, semoga bermanfaat.
Home » »

Terapi untuk Gangguan Somatoform


Terapi untuk Gangguan Somatoform



            Kebijakan klinis menyarankan pendekatan halus dan suportif seraya memberikan penghargaan kepada pasien atas setiap perbaikan kondisi sekecil apapun yang berhasil dipakai.
            Orang-orang yang menderita gangguan somatoform jauh lebih sering datang ke dokter dibanding ke psikiater atau psikolog karena mereka menganggap masalah berkaitan dengan kondisi fisik. Para pasien tersebut menganggap rujukan dokter ke psikolog atau psikiater sebagai tanda bahwa dokter menganggap penyakit mereka “terletak di kepala”; sehingga mereka tidak merasa senang dirujuk ke “ahli jiwa”. Mereka menguji kesabaran dokter mereka, yang sering kali meresepkan berbagai macam obat atau penanganan medis dengan harapan akan menyembuhkan keluhan somatik tersebut.
Penyembuhan dengan berbicara yang menjadi dasar psikoanalisis dilandasi oleh asumsi bahwa suatu represi masif telah memaksa energi psikis diubah menjadi anestesia atau kelumpuhan yang membingungkan. Seiring pasien menghadapi represi yang berasal dari masa kecil, katarsis diasumsikan akan membantu, bahkan hingga saat ini asosiasi bebas dan berbagai upaya lain untuk mengangkat represi umum digunakan untuk menangani gangguan somatoform. Namun demikian, psikoanalisis tradisional dengan terapi jangka panjang dan psikoterapi yang berorientasi psikoanalisis tidak menunjukkan hasil yang bermanfaat bagi gangguan konversi, kecuali mungkin mengurangi kekhawatiran pasin terhadap penyakitnya. Di sisi lain, bukti-bukti mutakhir menunjukkan bahwa penanganan psikodinamika jangka pendek dapat menjadi efektif untuk menghilangkan simtom-simtom gangguan somatoform.
Ketika menangani para penderita gangguan somatoform, para ahli klinis harus waspada bahwa pasien semacam itu sering kali menderita kecemasan dan depresi.
Baru-baru ini berkembang minat terhadap komorbiditas antara gangguan obsesif-kompulsif dan gangguan somatoform tertentu, seperti hipokondriasis dan gangguan dismorfik tubuh. Sesuai dengan hal itu penangan pilihan untuk gangguan obsesif-kompulsif (pemaparan dari pencegahan respons) dapat menjadi efektif ntuk gangguan somatoform tersebut. Suatu studi terkendali yang membandingkan pemaparan dan pencegahan respons dengan terapi kognitif menemukan bahwa keduanya lebih efektif untuk mengurangi simtom-simtom hipokondrial dibanding suatu kondisi kontrol di mana para pasien berada dalam daftar tunggu untuk mendapatkan penanganan.
Para terapis perilaku telah menetapkan berbagai macam teknik untuk gangguan somatoform yang dimaksudkan untuk dapat menghilangkan simtom-simtom pasien. Sebagai contoh, seorang laki-laki berhenti dari pekerjaannya karena rasa sakit dan lemas di kakinya dan serangan rasa pusing. Liebson membantu pasien tersebut dapat kembali bekerja penuh waktu dengan membujuk keluarganya agar tidak lagi menoleransi pria tersebut tidak bekerja dan dengan mengatur agar pria tersebut memperoleh kenaikan gaji jika dia berhasil bekerja kembali. Pendekatan penguatan berupaya memberikan intensif yang lebih besar pada pasien untuk kondisi yang membaik dan bukan unuk tetap berada dalam kondisi tidak berdaya.
Pertimbangan penting lain berkaitan dengan taktik operant semacam itu, seperti disampaikan oleh Walen, Hauserman, dan Lavin, adalah terapis perlu memperhitungkan untuk memastikan bahwa pasien tidak kehilangan muka ketika gangguan tersebut tidak lagi dialaminya. Terapis harus mempertimbangkan kemungkinan pasien merasa dipermalukan ketika kondisinya menjadi lebih baik melalui penanganan yang tidak berkaitan dengan masalah medis (fisik).

  • Terapi untuk Gangguan Somatisasi
            Para ahli klinis kognitif dan perilaku percaya bahwa tingkat kecemasan yang tinggi yang berkaitan dengan gangguan somatisasi dipicu oleh beberapa situasi spesifik. Sebagai contoh, Alice, seorang wanita mengungkapkan bahwa ia sangat cemas terhadap perkawinannya yang goyah dan berbagai situasi dimana orang lain mungkin akan menilainya. Beberapa teknik seperti pemaparan atau terapi kognitif dapat digunakan untuk mengatasi ketakutannya, berkurangnya rasa takut tersebut dapat membantu mengurangi beberapa keluhan somatik. Namun, kemungkinan akan dibutuhkan lebih banyak penanganan, karena seseorang yang telah menderita “sakit” selama kurun waktu tertentu terbiasa untuk menjadi lemah dan tergantung, untuk menghindari tantangan sehari-hari dan bukan menghadapinya sebagai orang dewasa.
            Kemungkinan orang-orang yang hidup bersam Alice telah menyesuaikan diri dengan penyakitnya dan tanpa sengaja bahkan menguatkannya menghindari tanggung jawab orang dewasa normal. Terapi keluarga dapat membantu Alice dan anggota keluarga mengubah jaringan hubungan yang bertujuan untuk membantu usahanya menjadi lebih mandiri. Training asersi dan keterampilan sosial (contohnya, melatih Alice agar dapat secara efektif mendekati dan memulai pembicaraan dengan orang lain, mempertahankan kontak mata, memberikan pujian, menerima kritik, mengajukan permintaan) dapat bermanfaat untuk membantunya menguasai , atau menguasai kembali, barbagai cara untuk berhubungan dengan orang lain dan mengatasi berbagai tantangan tanpa harus mengatakan “Saya seorang yang malang, lemah, dan sakit”.
            Dalam pendekatan yang diterima secara luas terhadap gangguan somatisasi, dokter tidak mengingkari validitas keluhan-keluhan fisik, namun meminimalkan penggunaan berbagai tes diagnostik dan pemberian obat, mempertahankan kontak dengan pasien terlepas dari pasien mengeluhkan suatu penyakit atau tidak. Dalam studi mengenai pendekatan ini, terungkap bahwa pasien menunjukkan perbaikan kondisi kesehatan yang signifikan dan semakin jarang menggunakan jasa pelayanan kesehatan. Pendekatan yang juga dapat dilakukan adalah mengarahkan perhatian pasien pada sumber-sumber kecemasan dan depresi yang mungkin mendasari simtom-simtom somatik yang tidak dapat dijelaskan dan tidak membiarkan mereka terlalu terfokus pada rasa sakit dan nyeri yang ringan dan tidak berbahaya. Teknik-teknik seperti training relaksasi dan berbagai bentuk terapi kognitif juga terbukti bermanfaat. Biofeedback, yang mencakup pengendalian terhadap proses-proses fisiologis telah terbukti efektif dalam mengurangi berbagai pikiran yang merusak pada para pasien yang menderita gangguan somatoform, bahkan lebih efektif dibanding pelatihan relaksasi.

  • Terapi untuk Hipokondriasis
            Secara umum, pendekatan kognitif-behavioral telah terbukti efektif untuk mengurangi berbagai masalah hipokondrial. Penelitian menunjukkan bahwa para pasien hipokondrial menunjukkan penyimpangan kognitif dengan menganggap masalah kesehatan yang muncul sebagai suatu ancaman. Terapi kognitif-behavioral dapat ditujukan untuk merestrukturisasi pemikiran pesimistik semacam itu. Selain itu, penanganan dapat mencakup beberapa strategi seperti mengarahkan perhatian selektif pasien ke simtom-simtom fisik dan tidak mendorong pasien mencari kepastian medis bahwa ia tidak sakit.

  • Terapi untuk Rasa Nyeri
            Berdasarkan pemikiran mutakhir, biasanya tidak ada gunanya membuat perbedaan yang tajam antara rasa nyeri psikogenik dan rasa nyeri yang benar-benar disebabkan oleh faktor medis, seperti cedera jaringan otot. Umumnya diasumsikan bahwa rasa nyeri selalu mengandung kedua komponen tersebut. Penanganan yang efektif cenderung terdiri dari hal-hal berikut:
·         melakukan validasi bahwa rasa nyeri memang nyata, dan tidak hanya dalam pikiran pasien;
·         pelatihan relaksasi;
·         menghadiahi pasien karena berperilaku yang tidak sejalan dengan rasa nyeri (menahan rasa nyeri).
Dalam suatu studi mutakhir yang terkendali terhadap hasil terapi dilaporkan bahwa suatu varian terapi psikodinamika jangka pendek, yang disebut terapi tubuh psikodinamika, efektif untuk menurangi rasa nyeri yang dialami pasien dan mempertahankan hasil yang menguntungkan tersebut dalam jangka waktu lama. Juga terdapat bukti yang dari sejumlah eksperimen doubleblind bahwa dosis rendah beberapa obat-obatan antidepresan, terutama imipramine (Tofranil), lebih tinggi manfaatnya dibanding placebo untuk mengurangi rasa nyeri dan distress kronis. Menariknya, berbagai obat antidepresan tersebut dapat mengurangi rasa nyeri bahkan ketika dosis rendah yang diberikan, obat-obatan tersebut tidak menghilangkan depresi. Beberapa penulis mencatat bahwa respon placebo yang kuat yang umum terjadi dalam berbagai studi farmakoterapi semacam itu menunjukkan bahwa perbaikan kondisi sebagian besar disebabkan oleh pemantauan diri dan perhatian serta pendidikan yang diterima pasien dari klinisi.
Secara umum tampaknya perlu disarankan untuk mengalihkan fokus dari hal-hal yang tidak dapat dilakukan pasien karena penyakitnya dan bahkan mengajarkan pada pasien bagaimana cara mengatasi stress, mendorong aktivitas yang lebih banyak, dan meningkatkan kontrol diri, terlepas dari keterbatasan fisik atau rasa tidak nyaman yang dialami pasien.

Artikel yang berhubungan: