Cari Jodoh Malang, Biro Jodoh Malang, kontak Jodoh Malang atau bisa juga PAKET WISATA KE PULAU TIDUNG MURAH 2017 LENGKAP jika anda ingin bisnis harus mampu pilih Jasa SEO bergaransi, semoga bermanfaat.
Home » »

Musa ditegur ada manusia lebih pintar


Musa ditegur ada manusia lebih pintar

Oleh Ibrahim Abdullah
2011/05/14

PADA suatu hari, Musa berpidato di hadapan kaumnya sambil mengingatkan agar taat kepada Allah.

Selesai berpidato, ada seorang lelaki bertanya: "Siapakah manusia sekarang ini yang paling pintar? Musa menjawab: Akulah manusia yang paling pintar sekarang ini. "
Karena kata-kata itu, Allah menegurnya dengan mengatakan: "Bahwa ilmu itu sangat luas dan ilmu tidak hanya Aku berikan kepadamu saja. Ada lagi manusia yang lebih pintar dari kamu yang bertempat tinggal di antara dua lautan. Ia adalah hamba-Ku


PADA suatu hari, Musa berpidato di hadapan kaumnya sambil mengingatkan agar taat kepada Allah.
Selesai berpidato, ada seorang lelaki bertanya: "Siapakah manusia sekarang ini yang paling pintar? Musa menjawab: Akulah manusia yang paling pintar sekarang ini. "
Karena kata-kata itu, Allah menegurnya dengan mengatakan: "Bahwa ilmu itu sangat luas dan ilmu tidak hanya Aku berikan kepadamu saja. Ada lagi manusia yang lebih pintar dari kamu yang bertempat tinggal di antara dua lautan. Ia adalah hamba-Ku yang saleh dan lebih pintar dari kamu. "
Musa berkata: "Ya Tuhanku, bagaimana aku dapat bertemu dengannya? Allah SWT menjawab: "Bawalah ikan Hut (ikan yang besar) dengan keranjang. Di mana ikan itu hilang, di situlah dia berada. "Maka pergilah Musa membawa ikan Hut itu dengan ditemani muridnya.

Ketika Musa dan muridnya tiba di permukaan dua laut, maka duduklah mereka untuk beristirahat, lalu Musa tertidur.

Dalam pada itu turunlah hujan membasahi ikan itu. Tiba-tiba ikan itu hidup (yang sebelumnya mati), berenang menuju air laut.

Diringkas cerita, tiba-tiba mereka menemukan hamba saleh itu.
Kemudian Musa meminta kepadanya (Khidir) agar mengizinkan untuk menemaninya agar dapat dia mengambil ilmunya.

Hamba saleh itu menjawab, Musa tidak akan sanggup bersabar menemaninya. Musa memohon untuk ikut bersama sambil berkata: "Insya-Allah engkau akan mendapatkan diriku bersabar atas segala tindakan, perbuatanmu dan tidak akan membantahmu."

Di tengah perjalanan, Khidir membocorkan perahu milik orang. Musa berkata: "Mengapa engkau bocorkan perahu ini, yang akibatnya penumpangnya semua akan karam? Sesungguhnya kamu telah berbuat suatu kesalahan besar. "(Surah al-Kahfi, ayat 71)

Khidir menjawab: "Bukankah aku telah berkata, sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan bersabar bersama denganku?" (Surah al-Kahfi, ayat 72)

Musa yang menyadari syarat atau perjanjian itu berkata: "Jangan engkau menghukum aku karena kesilapanku, dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku."

Musa dan Khidir melanjutkan perjalanan sehingga berjumpa dengan seorang anak, maka dengan segera Khidir membunuh anak itu.

Musa berkata: "Mengapa engkau bunuh jiwa yang bersih dan tidak bersalah itu, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang mungkar. "(Surah al-Kahfi, ayat 74)

Khidir menjawab: "Bukankah telah aku katakan kepadamu bahwa sesungguhnya kamu tidak akan sabar dan tidak sanggup bersamaku?" (Surah al-Kahfi, ayat 75)

Mereka melanjutkan perjalanan sampai merasa letih dan lapar. Kemudian memasuki sebuah kampung dan meminta makanan dari penduduk kampung itu.

Tetapi tidak diberi penduduk dan mereka diusir dengan kasar.

Ketika menyusuri jalan dilalui tadi, tiba-tiba mereka menemukan dinding rumah yang hampir roboh.

Maka Khidir memperbaiki dinding itu. Musa berkata: "Jika engkau mau, niscaya kamu mengambil upah untuk." (Surah al-Kahfi, ayat 77)

Saat hendak berpisah, Khidir menjelaskan kepada Musa mengenai perlakuannya: "Perahu itu milik orang miskin yang bekerja di laut. Aku bertujuan merusakkan bahtera, karena ada seorang raja yang merampas bahtera.

Anak itu, kedua orangtuanya adalah orang beriman, dan kami khawatir bahwa ia akan mendesak mereka kesesatan dan kufur.

Aku harap Tuhan menggantikan dengan anak yang lebih baik dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya kepada orang tuanya.

Dinding rumah itu milik dua orang anak yatim dan di bawahnya ada 'harta terpendam' milik mereka, dan bapa mereka pula adalah orang saleh. Maka Tuhan kamu menghendaki supaya mereka cukup umur dan dapat mengeluarkan harta terpendam itu, sebagai rahmat dari Tuhan kamu, dan ingatlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikianlah penjelasan tujuan perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya. "(Surah al-Kahfi, ayat 78-82ang saleh dan lebih pintar dari kamu. "

Artikel yang berhubungan: